Semua mahluk hidup memiliki kisah dan sejarahnya sendiri . Lalu, bagaimana denganku? Aku hanya sebuah tanah yang bisa kalian temui dimana-mana dan perlu kalian ketahui juga, aku adalah sebagian dari dirimu. Bila digolongkan dalam teori ilmu alam yang kau pelajari, kalian pasti menyebut diriku sebagai ‘benda mati’. Tapi, bolehkah benda mati sepertiku memiliki kisah dan berbagi kisah selayaknya kalian mahluk hidup? Terdengar tidak logis memang, bila kau menggunakan akal mu untuk mendengarkan kisahku yang hanya sebuah benda mati. Coba kau pakai hatimu untuk mendengarkanku, lalu gunakan akal cemerlangmu untuk menganalisisnya.
Kisahku dimulai saat Tuhan menciptakanku sebagai benda mati yang dapat menghidupkan sesuatu. Tuhan membuatku istimewa dengan memakai diriku untuk menciptakan mahluk yang paling sempurna dari mahluk lainnya yang bernama ‘manusia’. Tapi aku pun merasa rendah sekaligus kecewa saat diriku hanya sebuah dasar untuk kau pijaki. Mengabaikan fakta bahwa kau berasal dari diriku.
Pernahkah kau berfikir, jika kau berpijak pada diriku sama seperti halnya kau menginjak-injak harga dirimu sendiri? Tapi kenyataannya kau seolah tak peduli, seolah itu bukan hal yang penting.
Bermacam flora dan fauna hidup dalam dekapanku, bermacam logam berharga berada diantara tubuhku, aman dalam naunganku, untukmu, manusia. Tapi kata "Untukmu" kau ubah dengan kata "Milikku" menekankan kepemilikan individu, karena kau merasa paling kaya. benarkan?
Peluh membanjiri tubuhmu saat kau menanam sebuah biji dalam tubuhku. Berdoa kepada Tuhan agar aku menghidupkan biji yang kau tanam. Memberiku makan dan minum membuatku dapat membesarkannya. Aku ikut bahagia saat usahamu membuahkan hasil. Akan tetapi aku merasa marah saat biji-biji yang telah ku besarkan, kau cabut tengan beringas membuatku menahan sakit.
Mungkin akan terdengar terlalu mendramatisi kenyataan. Tidak terlalu sakit memang, akan tetapi bisakah kau mengambilnya dengan lembut? Karena mereka yang kau tanam sudah lama dalam pelukanku, sehingga aku memeluknya terlalu erat. Sekali lagi kau berfikir seolah itu bukan hal yang penting.
Kau tertawa penuh kemenangan saat seluruh permukaan tubuhku yang dipenuhi bermacam flora dan fauna yang ada dalam pelukan dan naunganku, kau bakar hingga tak tersisa. Membuatku merasa kesepian akan hal itu.
Belum puas kau siksa bumi ini. Kau ambil sebagian dari diriku untuk kau jadikan bangunan mewah untuk kau singgahi, tangan kreatifmu menjadikanku sebagai mahakarya terindah didunia, mengambil berbagai logam dari dalam tubuhku layaknya orang kesetanan karena takut kehabisan, bahkan kau pun buatku terbuang sia-sia.
Tubuhku tak nampak lagi dipermukaan, karena kau melumuriku dengan bahan yang lebih kokoh dan rata sehingga terlihat rapih dan bersih. Bahkan kau pun tak mengizinkan ku untuk minum walau hanya satu tetes air dari langit.
Aksi-Reaksi-Konsekuensi. Pernahkah kalian mendengarnya? Tentu saja, karena salah satu dari kalian lah yang membuat argumen tersebut. Lalu sekarang aksi yang kau lakukan membuahkan reaksi yang menakutkan.
Langit marah kepada kalian yang serakah karena tak mengizinkanku meminum airnya. Ia juga marah ketika kewajibannya untuk memberiku minum tertunda. Dengan itu ia berusaha menumpahkan semua cairannya bertubi-tubi hingga mengenaiku yang ternyata sia-sia. Bukan aku dan langit di atas sana yang marah kepadamu, akan tetapi sang surya bahkan semua alam marah kepada kalian yang serakah termasuk air yang ada di bumi yang kau cemari, membuat mereka tak ingin berteman lagi dengan kalian.
Bencana alam menimpa dirimu akibat ulahmu sendiri. Air menggenangi wilayah yang kau tinggali karena kau tak mengizinkanku untuk minum air dari sang langit. kau pun tak memberiku kesempatan untuk memeluk flora dan menyayangi fauna.
Ketika langit menumpahkan cairannya, ketika sang danau meluapkan isinya. Kau lah yang harus menampungnyanya. Karena kau tak mengizinkan ku untuk meminumnya.
Konsekuensi yang mau tidak mau, siap tidak siap, kau harus menerimanya. Aku bertanya, apa kau bisa menahan atau menampung semua air itu? Tidak kan. "Hahaha." terdengar meremehkan kah?
Mungkin dengan teknologi kau bisa menampungnya, SEBAGIAN.
Setelah kau mendapatkan konsekuensinya, kau membuat orang yang tidak berdosa menerima getahnya. Lalu dengan mudahnya kau berkata bahwa bencana yang terjadi bukan karena tanganmu, akan tetapi kau menyalahkan Tuhan yang mengizinkan bencana hadir dalam hidupmu. Kau pun berkata bahwa Tuhan terlalu berat memberikan cobaan kepadamu.
Sebagian dari kalian meminta pertolongan dari-Nya "Ya Tuhan... Ampunilah hamba mu yang berdosa ini. Hentikanlah bencana dan cobaan yang kau berikan ini Tuhan." ucapmu serentak kepada Tuhan. Bukan kah yang membuat bencana itu ulahmu sendiri? Tapi, kenapa kau berdoa seolah Tuhanlah yang memberikan bencana ini? Tapi Tuhan maha pengampun, maha mengerti, dan maha mengabulkan. Doa yang kalian panjatkan dikabulkan oleh Nya.
Ingin ku bertanya kepada Tuhan "Apakah mereka sudah jera sehingga engkau berbaik hati mengabulkannya permintaannya?" kenyataan yang ada, banyak yang belum jera terhadap bencana yang mereka timbulkan sendiri. Mereka tetap mengeruk tubuhku yang tidak setebal dulu dengan segala teknologi yang kau buat. Mencari sesuatu yang berharga hingga tak tersisa.
Kurasakan lautan terasa dekat dengan daratan. Ku tegur kalian agar tidak mengambil lapisan tubuhku yang tipis ini dengan memberimu bahasa isyarat, menggerak-gerakan lapisan tubuhku agar kau mengerti, agar kalian selamat. Akan tetapi mereka tidak mau mengerti, mereka hanya memikirkan hal duniawi.
Jujur aku tak bisa apa-apa saat air yang menggantikan ku untuk kalian pijaki. Mengirimkan bencana yang sangat menakutkan bagi kalian. Bahkan Tuhan pun tak lagi mendengarkanmu.
***
Komentar
Posting Komentar